Meningkatkan Kualitas Kompetensi melalui Kuliah Kerja Profesi: Sebuah Tantangan Enterprenuership bagi Perguruan Tinggi no comments
(I) APA ITU KOMPETENSI?
Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu). (SK Mendiknas No. 045/U/2002, Ps. 21).
Kompetensi tersebut dibangun berdasar empat pilar pendidikan, yaitu: (i) learning to know, that is acquiring the instruments of understanding; (ii) learning to do, so as to able to act creatively on one’s environment (perubahan dari skill ke competent, dematerialisasi dari pekerjaan dan the rise of service sector, serta bekerja di bidang ekonomi informal), (iii) learning to live together, learning to live with others, so as to participate and to co-operate with other people in all human activities (discovering others and working toward common objectives), dan (iv) learning to be; an essential progression which proceeds from the previous three.
Education as ameans to the end of a successful working life is thus a very individualized process and at the same time a process of constructing social interaction Read the rest of this entry »
Konsep, Dimensi dan Pendekatan Ketahanan Pangan di Indonesia no comments
Ketahanan pangan sebagai terjemahan dari food security telah dikenal luas di dalam forum pangan sedunia seperti FAO. Sebagai titik tolak alat evaluasi yang penting dalam kebijakan pangan, konsep ketahanan pangan mengalami banyak perubahan sesuai kondisi sosial, ekonomi dan politik. Pada tahun 1970-an, aspek ketersediaan pangan menjadi perhatian utama dalam ketahanan pangan, namun mulai tahun 1980-an, beralih ke akses pangan pada tingkat rumah tangga dan individu. Kemudian memasuki tahun 1990-an, konsep ketahanan pangan mulai memasukan aspek kelestarian lingkungan (Handewi dan Ariani, 2002).
Selanjutnya menurut Handewi dan Ariani, (2002), dimensi ketahanan pangan sangat luas, mencakup dimensi waktu, dimensi sasaran, dimensi sosial ekonomi masyarakat, sehingga diperlukan banyak indikator untuk mengukurnya. Pada tingkat global, nasional, regional indikator ketahanan pangan yang dapat digunakan adalah tingkat ketersediaan pangan dengan memperhatikan variabel tingkat kerusakan tanaman/ternak/perikanan, rasio ketersediaan (stock) dengan konsumsi, skor PPH, keadaan keamanan pangan, kelembagaan pangan, dana pemerintah dan harga pangan. Sementara itu, untuk tingkat rumah tangga dan individu, indikator yang dapat digunakan adalah pendapatan dan alokasi tenaga kerja, proporsi pengeluaran pangan terhadap tingkat pengeluaran total, perubahan kehidupan sosial, keadaan konsumsi pangan (jumlah, kualitas, kebiasaan makan), keadaan kesehatan dan status gizi. Berdasarkan luasnya dimensi ketahanan pangan tersebut di atas, maka pilihan kebijakan dan program juga sangat kompleks, tergantung seberapa besar ancaman ketahanan pangan, misalnya kronis atau sementara. Read the rest of this entry »
Isue Gender dalam Aktivitas Ekonomi no comments
Beberapa bentuk negatif terhadap kerja perempuan yang berkaitan dengan pembedaan gender tercermin dari: ketidaktampakan peran (invicibility), bias lelaki (male bias), marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, namun mendapat beban kerja yang lebih panjang dan lebih banyak (over burden), juga mengalami subordinasi atau dianggap tidak penting dalam keputusan politik, dan lain sebagainya. Adapun isu gender dalam aktivitas ekonomi sebagai berikut: Read the rest of this entry »
Perempuan dan Kerja no comments
Perempuan bekerja memiliki makna yang berbeda-beda di masyarakat yang berlainan, antara lain: untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagai bentuk tanggungjawab keluarga, kebutuhan aktualisasi diri. Pekerjaan perempuan bisa juga dibedakan menjadi pekerjaan upahan dan pekerjaan non upahan. Pekerja non upahan, seperti pekerjaan yang tak dibayar di rumah (pekerjaan reproduktif) dan pekerjaan sebagai sukarelawan di komunitas. Pekerjaan non upahan ini jarang diungkapkan dalam angka statistik karena kecenderungan apa yang dihargai di masyarakat ditunjukkan oleh nilai upahnya. Upah merupakan indikator sumbangan-sumbangan produktif, dimana cenderung terjadi ketidaksamaan upah antara laki-laki dan perempuan antara lain disebabkan oleh pendidikan dan pelatihan, pengalaman kerja, resiko majikan karena investasi pelatihan tenaga kerja, dan kondisi kerja. Read the rest of this entry »








